Integrasi Pekerjaan Sosial dan Pemulihan Pendidikan Pascabencana: Perbandingan Cianjur dan Palu
Kata Kunci:
pendidikan dalam situasi darurat; dukungan psikososial; ketahanan sekolah; perlindungan anak; manajemen kasus; rehabilitasi sosialAbstrak
Bencana merusak pendidikan bukan hanya melalui kehancuran bangunan sekolah, tetapi juga melalui pengungsian, kehilangan anggota keluarga, gangguan pengasuhan, tekanan ekonomi, trauma, terputusnya pelayanan sosial, dan melemahnya keterikatan peserta didik terhadap sekolah. Penelitian ini menganalisis bagaimana variasi karakter bencana dan kapasitas kelembagaan memengaruhi integrasi pekerjaan sosial, dukungan psikososial, perlindungan anak, dan pemulihan pendidikan di Kabupaten Cianjur dan Kota Palu. Penelitian menggunakan studi kasus komparatif kualitatif berbasis data sekunder yang mencakup dokumen rehabilitasi dan rekonstruksi, laporan pemerintah, laporan UNICEF dan Bank Dunia, regulasi, serta literatur ilmiah. Temuan menunjukkan bahwa Cianjur menghadapi kerusakan terkonsentrasi akibat gempa 2022, dengan 540 fasilitas pendidikan tercatat rusak dalam rencana pemulihan daerah. Palu menghadapi bencana majemuk gempa, tsunami, dan likuefaksi pada 2018 yang menghasilkan pengungsian berkepanjangan, relokasi, keterpisahan keluarga, dan penggunaan ruang belajar sementara dalam skala regional. Respons Palu lebih kuat terdokumentasi dalam pelatihan pekerja sosial, penelusuran keluarga, ruang ramah anak, dan dukungan psikososial bertingkat. Cianjur memiliki integrasi pemulihan pendidikan dalam dokumen rehabilitasi, tetapi kesinambungan antara dukungan psikososial darurat, asesmen sosial, dan pemantauan sekolah belum terukur secara sistematis. Penelitian mengembangkan Model Integrasi Pemulihan Pendidikan Berlapis yang menempatkan keamanan dasar, kesinambungan belajar, dukungan keluarga, intervensi psikososial, dan manajemen kasus sebagai mekanisme menuju kesejahteraan serta ketahanan pendidikan.